Aku dan Mitha berjalan menuruni tangga menuju parkiran sepeda motor. Sekolah sudah sepi, jam pelajaran telah berakhir satu jam yang lalu. Jam tanganku menunjukan pukul setengah empat sore.
“Gue duluan yah, musti bantuin mama nih buat arisan.”
“Okeh, deh, hati-hati yah Mith.”
“Sip.”
Setelah Mitha pulang, akupun segera menghampiri motorku.
“hmm, masih ada waktu.” Gumamku.
Akupun segera menyalakan mesin dan menuju sebuah taman di pinggiran kota.
***
Sekitar lima belas menit aku sampai di taman. Taman ini memang sepi karena jarang ada yang tahu keberadaan taman ini. Aku menuju sebuah saung yang menghadap tepat kea rah barat, dimana aku bisa melihat langit barat dengan jelas. Di sini semua kenangan itu terjadi. Tentang seseorang yang sampai sekarang masih belum menghilang dari pikiranku. Senyuman manis yang dulu selalu untukku, bahkan dapat menghapus air mataku.
***
“Kita mau kemana sih Den?”
“Udah deh, ikut aja gak usah bawel!”
Denny menarikku masuk ke dalam mobilnya. Dan mmembawaku ke sebuah taman sepi di pinggiran kota.
“Wahh, bagus banget Den, indaahhh banget.”
“Iya, kayak kamu, indah.”
“Apaan sih kamu, gombal dehh.”
“Aku serius, aku gak gombal, memangnya aku keliatan gombal?”
Aku menatapnya dan terdiam. Aku melihat keseriusan di matanya, meunjukkan bahwa dia memang serius dengan perkataanya tadi.
“Ester..”
“Iya Denny?”
“Aku sayang sama kamu, kamu mau jadi pacarku?”
“Kamu bercanda ya? Kita ini kan sahabatan?”
“Iya, aku tau, tapi semakin lama aku semakin sayang sama kamu, bukan sayang seorang sahabat, dan aku yakin, kamu juga ngerasain hal yang sama kan?”
Aku bingung aku harus menjawab apa. Kami sudah bersahabat sejak lama, sejak kelas satu SMP. Jujur, aku juga sayang sama Denny bukan sayang seorang sahabat, tapi aku bingung apakah aku harus tetap mempertahankan hubungan kami sebagai sahabat, ataukah aku harus menerimanya sebagai pacarku?
“Iya, Denny, sejujurnya aku juga sayang sama kamu, melebihi sayang seorang sahabat.”
“Jadi..? Apa kita jadian?”
“Menurutmu??”
“Iya!! Kita jadian!!”
Tiba-tiba Denny menggendongku dengan berputar-putar.
“Denny!! Turunin!!”
“Gak mau!! Hahaha..”
“Ya udah, aku ngambek nihh.”
“Iya, iya, aku turunin, jangan ngambek dong, ntar cantiknya ilang loh.”
“Dasar gombal deh kamu.”
“Biarin, wekk.”
Akhirnya kami menuju ke sebuah saung yang menghadap tepat ke langit barat. Di saung itu kami bisa menikmati saat-saat matahari akan kembali ke peraduannya dengan leluasa.
“Indah banget yah Den.”
“Iya, aku berharap aku bisa menikmati saat-saat senja ini sama kamu terus.”
“Ya, aku harap juga begitu.”
Denny membawaku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat, aku benar-benar merasa nyaman, dan aku ingin selalu seperti ini, selalu bersamanya, selalu dalam pelukannya. Tidak terasa matahari telah kembali ke peraduanya. Digantikkan oleh bulan dan bintang-bintang.
***
Perlahan, air mataku menetes. Andai saja bisa, aku ingin semua itu kembali. Aku rindu sinar matanya yang membawa ketenangan. Senyumannya yang bisa mengahapus air mataku. Dan pelukannya yang selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya yang bisa memberikanku kenyamanan. Hanya di tempat inilah aku bisa merasakan semuanya kembali. Aku bisa merasakan kehadirannya, meski hanya dalam pikiranku. Aku dapat berbagi semua perasaanku kepada awan dan matahari. Tentang sebuah perasaan yang akupun tidak bisa mengerti. Aku ingin semuanya kembali.
***
Aku sebel banget sama Denny, sekarang dia sibuk banget, setiap aku butuh, dia selalu gak ada, beberapa hari ini kami putus kontak, handphone-nya gak aktif, aku telpon ke rumahnya gak ada yang ngangkat. Dia masa lupa sih? Lusa kan setahun tepat kita jadian, tanggal 21 Januari 2011. Karena gak konsen belajar akhirnya aku memutuskan buat nonton TV. Tapi hasilnya sama saja berulang kali channelnya aku pindah, tetapi gak ada satupun yang menarik buat ditonton. Pilihan terakhir, akupun tidur.
***
“teett… teett…”
Bel pulang pun berbunyi. Aku mengajak Mitha makan nasi goreng dulu di kantin sekolah sebelum pulang.
“Mith, makan dulu yukk, laper berat nihh.”
“Iya nih, gue juga laper berat, ayok deh.”
Aku dan Mitha pun menuju kantin sekolah, memesan dua piring nasi goreng lalu mencari tempat duduk.
“Mith, Denny kok akhir-akhir ini sibuk yah, telpon gue jarang diangkat, sms ajah untung-untungan kalo ngebales.”
“Yah mungkin dia emang lagi bener-bener sibuk, lo kan tau sendiri kalo dia tuh aktif di organisasi-organisasi di sekolahnya.”
“Iya sih, tapi kok sampek segininya yah? Apa dia udah gak sayang sama gue, berniat mau ninggalin gue?”
“Gak usah Nethink dulu deh lo, ntar sampek rumah coba lo sms atau telpon lagi aja.”
“Hmm, iya ya, thanks banget yah Mith.”
“Okeh, U’re wel.”
***
Sampai jam segini belum ada kabar, ini udah jam setengah sembilan , kemana sih nih anak?!! Apa dia lupa kalau besok tuh tanggal 21 Januari 2011 tepat setahun kita jadian? Keterlaluan banget sih nih anak!! Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku udah nyoba buat telepon ke handphone-nya, tapi gak aktif. Telepon ke rumahnya, yang ngangkat pembantunya dan pembantunya pun gak tau dia kemana. Orang tuanya gak bisa dihubungin, lagi pada sibuk semua,. Yaampun aku bener-bener- marah kali ini. Ada apasih dengannya? Belum pernah dia seperti ini, menghilang tanpa jejak. Biasanya dia selalu kasih kabar ke aku kapanpun dan dimanapun dia berada, tapi sekarang benar-benar menghilang tanpa jejak.
***
Pagi ini aku bener-bener males bangun, kalau saja bukan suara hapeku yang terus bordering menandakan telepon masuk. Enam belas miscalled dan sebelas short message dari Denny. Akupun segera menelpon Denny balik tapi nomornya sudah tidak aktif. Akhirnya akupun membuka sms darinya.
“ From : :*
Nanti sore jam empat aku tunggu di taman biasa.
21.01.11
08.15
Nada smsnya datar, berbeda dari biasanya. Hmm kenapa yah dia, apa aku melakukan sesuatu yang dia gak suka? Perasaanku sekarang benar-benar tidak enak. Semoga saja bukan hal buruk.
***
Dia berdiri, menghadap senja di langit barat. Aku berjalan pelan dan berdiri di sampingnya. 21 Januari 2011, kami kembali kesini tepat satu tahun sejak 21 Januari 2010 dengan Susana yang berbeda. Ya, hening. Burung-burung pun tak Nampak, seakan mereka mengerti apa yang terjadi. Hanya matahari dan mega dengan sinarnya yang sayu. Menemani kami berdua yang membisu. Dengan tiba-tiba, Denny memelukku dan mengecup lembut bibirku.
“ Ester, maaf aku harus pergi, aku bukanlah orang yang baik buat kamu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Ingat senja ini, ingat tentang semua kenangan-kenangan saat kita bersama. Aku harap kamu gak akan pernah melupakannya. Aku harap kamu menyimpannya di dalam hatimu. Satu hal yang harus kamu tahu, aku sangat sayang sama kamu, dan kalau kamu tanya alasan kenapa aku ninggalin kamu ini alasannya, karena aku sayang banget sama kamu. Permintaan terakhirku, jangan pernah kamu lupain aku, aku sayang kamu selamanya.”
Sekali lagi dia memelukku dan mengecup lembut bibirku, lalu pergi dengan senyum dan air mata. Aku hanya bisa terdiam, bersama dengan butir-butir air mata yang keluar semakin deras.
***
Pelukan terakhir, ciuman terakhir, senyuman terakhir. Tepat setahun sudah dia pergi. Tapi wajahnya masih sangat jelas kuingat, pelukannya, ciumannya masih jelas aku rasakan, senyumnya pun masih sangat jelas terekam. Aku sangat merindukan semua itu. Andai Tuhan memberiku kesempatan untuk memutar kembali semuanya.