Minggu, 26 Februari 2012

Kenangan


Aku dan Mitha berjalan menuruni tangga menuju parkiran sepeda motor. Sekolah sudah sepi, jam pelajaran telah berakhir satu jam yang lalu. Jam tanganku menunjukan pukul setengah empat sore.

“Gue duluan yah, musti bantuin mama nih buat arisan.”
“Okeh, deh, hati-hati yah Mith.”
“Sip.”

Setelah Mitha pulang, akupun segera menghampiri motorku.

“hmm, masih ada waktu.”  Gumamku.

Akupun segera menyalakan mesin dan menuju sebuah taman di pinggiran kota.

***
Sekitar lima belas menit aku sampai di taman. Taman ini memang sepi karena jarang ada yang tahu keberadaan taman ini. Aku menuju sebuah saung yang menghadap tepat kea rah barat, dimana aku bisa melihat langit barat dengan jelas. Di sini semua kenangan itu terjadi. Tentang seseorang yang sampai sekarang masih belum menghilang dari pikiranku. Senyuman manis yang dulu selalu untukku, bahkan dapat menghapus air mataku.

***
“Kita mau kemana sih Den?”
“Udah deh, ikut aja gak usah bawel!”

Denny menarikku masuk ke dalam mobilnya. Dan mmembawaku ke sebuah taman sepi di pinggiran kota.

                “Wahh, bagus banget Den, indaahhh banget.”
                “Iya, kayak kamu, indah.”
“Apaan sih kamu, gombal dehh.”
“Aku serius, aku gak gombal, memangnya aku keliatan gombal?”

Aku menatapnya dan terdiam. Aku melihat keseriusan di matanya, meunjukkan bahwa dia memang serius dengan perkataanya tadi.

                “Ester..”
                “Iya Denny?”
                “Aku sayang sama kamu, kamu mau jadi pacarku?”
                “Kamu bercanda ya? Kita ini kan sahabatan?”
“Iya, aku tau, tapi semakin lama aku semakin sayang sama kamu, bukan sayang seorang    sahabat, dan aku yakin, kamu juga ngerasain hal yang sama kan?”

Aku bingung aku harus menjawab apa. Kami sudah bersahabat sejak lama, sejak kelas satu SMP. Jujur, aku juga sayang sama Denny bukan sayang seorang sahabat, tapi aku bingung apakah aku harus tetap mempertahankan hubungan kami sebagai sahabat, ataukah aku harus menerimanya sebagai pacarku?

                “Iya, Denny, sejujurnya aku  juga sayang sama kamu, melebihi sayang seorang sahabat.”
                “Jadi..? Apa kita jadian?”
                “Menurutmu??”
                “Iya!! Kita jadian!!”

Tiba-tiba Denny menggendongku dengan berputar-putar.

                “Denny!! Turunin!!”
                “Gak mau!! Hahaha..”
                “Ya udah, aku ngambek nihh.”
                “Iya, iya, aku turunin, jangan ngambek dong, ntar cantiknya ilang loh.”
                “Dasar gombal deh kamu.”
                “Biarin, wekk.”

Akhirnya kami menuju ke sebuah saung yang menghadap tepat ke langit barat. Di saung itu kami bisa menikmati saat-saat matahari akan kembali ke peraduannya dengan leluasa.

                “Indah banget yah Den.”
                “Iya, aku berharap aku bisa menikmati saat-saat senja ini sama kamu terus.”
                “Ya, aku harap juga begitu.”

Denny membawaku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat, aku benar-benar merasa nyaman, dan aku ingin selalu seperti ini, selalu bersamanya, selalu dalam pelukannya. Tidak terasa matahari telah kembali ke peraduanya. Digantikkan oleh bulan dan bintang-bintang.

***
Perlahan, air mataku menetes. Andai saja bisa, aku ingin semua itu kembali. Aku rindu sinar matanya yang membawa ketenangan. Senyumannya yang bisa mengahapus air mataku. Dan pelukannya yang selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya yang bisa memberikanku kenyamanan. Hanya di tempat inilah aku bisa merasakan semuanya kembali. Aku bisa merasakan kehadirannya, meski hanya dalam pikiranku. Aku dapat berbagi semua perasaanku kepada awan dan matahari. Tentang sebuah perasaan yang akupun tidak bisa mengerti. Aku ingin semuanya kembali.

***
Aku sebel banget sama Denny, sekarang dia sibuk banget, setiap aku  butuh, dia selalu gak ada, beberapa hari ini kami putus kontak, handphone-nya gak aktif, aku telpon ke rumahnya gak ada yang ngangkat. Dia masa lupa sih? Lusa kan setahun tepat kita jadian, tanggal 21 Januari 2011. Karena gak konsen belajar akhirnya aku memutuskan buat nonton TV. Tapi hasilnya sama saja berulang kali channelnya aku pindah, tetapi gak ada satupun yang menarik buat ditonton. Pilihan terakhir, akupun tidur.

***
                “teett… teett…”

Bel pulang pun berbunyi. Aku mengajak Mitha makan nasi goreng dulu di kantin sekolah sebelum pulang.

                “Mith, makan dulu yukk, laper berat nihh.”
                “Iya nih, gue juga laper berat, ayok deh.”

Aku dan Mitha pun menuju kantin sekolah, memesan dua piring nasi goreng lalu mencari tempat duduk.
“Mith, Denny kok akhir-akhir ini sibuk yah, telpon gue jarang diangkat, sms ajah untung-untungan kalo ngebales.”
“Yah mungkin dia emang lagi bener-bener sibuk, lo kan tau sendiri kalo dia tuh aktif di organisasi-organisasi di sekolahnya.”
“Iya sih, tapi kok sampek segininya yah? Apa dia udah gak sayang sama gue, berniat mau ninggalin gue?”
“Gak usah Nethink dulu deh lo, ntar sampek rumah coba lo sms atau telpon lagi aja.”
“Hmm, iya ya, thanks banget yah Mith.”
“Okeh, U’re wel.”

***
Sampai jam segini belum ada kabar, ini udah jam setengah sembilan , kemana sih nih anak?!! Apa dia lupa kalau besok tuh tanggal 21 Januari 2011 tepat setahun kita jadian? Keterlaluan banget sih nih anak!! Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku udah nyoba buat telepon ke handphone-nya, tapi gak aktif. Telepon ke rumahnya, yang ngangkat pembantunya dan pembantunya pun gak tau dia kemana. Orang tuanya gak bisa dihubungin, lagi pada sibuk semua,. Yaampun aku bener-bener- marah kali ini. Ada apasih dengannya? Belum pernah dia seperti ini, menghilang tanpa jejak. Biasanya dia selalu kasih kabar ke aku kapanpun dan dimanapun dia berada, tapi sekarang benar-benar menghilang tanpa jejak.

***
Pagi ini aku bener-bener males bangun, kalau saja bukan suara hapeku yang terus bordering menandakan telepon masuk. Enam belas miscalled dan sebelas short message dari Denny. Akupun segera menelpon Denny balik tapi nomornya sudah tidak aktif. Akhirnya akupun membuka sms darinya.

                “ From : :*

Nanti sore jam empat aku tunggu di taman biasa.

21.01.11
08.15

Nada smsnya datar, berbeda dari biasanya. Hmm kenapa yah dia, apa aku melakukan sesuatu yang dia gak suka? Perasaanku sekarang benar-benar tidak enak. Semoga saja bukan hal buruk.

***
Dia berdiri, menghadap senja di langit barat. Aku berjalan pelan dan berdiri di sampingnya. 21 Januari 2011, kami kembali kesini tepat satu tahun sejak 21 Januari 2010 dengan Susana yang berbeda. Ya, hening. Burung-burung pun tak Nampak, seakan mereka mengerti apa yang terjadi. Hanya matahari dan mega dengan sinarnya yang sayu. Menemani kami berdua yang membisu. Dengan tiba-tiba, Denny memelukku dan mengecup lembut bibirku.

“ Ester, maaf aku harus pergi, aku bukanlah orang yang baik buat kamu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Ingat senja ini, ingat tentang semua kenangan-kenangan saat kita bersama. Aku harap kamu gak akan pernah melupakannya. Aku harap kamu menyimpannya di dalam hatimu. Satu hal yang harus kamu tahu, aku sangat sayang sama kamu, dan kalau kamu tanya alasan kenapa aku ninggalin kamu ini alasannya, karena aku sayang banget sama kamu. Permintaan terakhirku, jangan pernah kamu lupain aku, aku sayang kamu selamanya.”

Sekali lagi dia memelukku dan mengecup lembut bibirku, lalu pergi dengan senyum dan air mata. Aku hanya bisa terdiam, bersama dengan butir-butir air mata yang keluar semakin deras.

***
Pelukan terakhir, ciuman terakhir, senyuman terakhir. Tepat setahun sudah dia pergi. Tapi wajahnya masih sangat jelas kuingat, pelukannya, ciumannya masih jelas aku rasakan, senyumnya pun masih sangat jelas terekam. Aku sangat merindukan semua itu. Andai Tuhan memberiku kesempatan untuk memutar kembali semuanya.

With Love..
Ester Putri Prameswari :)

Selasa, 21 Februari 2012

Catatan Bulan Januari

Januari 2007..
Namanya Dimas, dia orang yang paling menyebalkan yang ada di kelasku., kelas 7 b. Sial banget aku, harus masuk di SMP yang sama dengannya, sekelas dan sebangku pula. Tidak terlalu tertekan, tapi sedikit tersiksa. Apalagi setiap hari harus bertemu dengan cowok paling menyebalkan seantero sekolah. Dimas, siapa lagi! Cowok itu apasih kerjaannya selain ngeresein aku? Setiap hari gak pernah bosen godain aku, bikin jengkel. Pokoknya nyebelin banget!! Herannya, sebagian besar cewek di sekolah mulai dari cewek-cewek seangkatan, adik kelas sampai kakak kelas malah ngincar dia. Huh! apanya yang menarik?!
okelah jujur, Dimas memang cukup oke. Tampangnya sih gak jelek-jelek amat. Kalo dinilai , delapan koma gitu deh. Tapi sayang, nyebelin ! Iya, bagiku dia nyebelin mengingat yang dia lakuin di depanku enggak lain adalah nyanyi lagu bulan Januari mulu, lagunya Ian Kasela itu! Mungkin karena ini adalah bulan Januari, jadi nggak ada lagu lain yang tertarik buat dia nyanyiin. Mending kalu suaranya bagus, ini sih..hehh, gak usah diterusin deh!
Dimas, banyak yang bilang dia cowok yang romantis, hoek! Romantis dari Hongkong?! Mereka aja belum pada tau aslinya. Banyak juga yang bilang kalu dia itu baik hati dan tidak sombong. Okelah, dia emang baik, suka nolong temen yang kesusahan ngerjain peer atau soal ulangan. Tapi ya tetap saja, Dimas adalah cowok yang over friendly, aku gak begitu suka sama cowok kayak gitu, kesannya kurangmisterius. Ah, lagian aku emang gak pernah suka sama cowok yang satu ini. Abis, dia sering banget bikin aku malu. Nggak di kelas, nggak di lapangan, di kantin, sampai di pinggir jalan pun, dia sering nyanyiin lagu bulan Januari sambil neriakkin namaku, kadang bahkan gak tanggung-tanggung pakek ngasih bunga segala, dia pikir lucu apa?!

Januari 2008..
Enggak tau, enggak ngerti, setelah lama berteman dan berhubungan dengan Dimas, meski gak bisa dibilang baik, ada satu hal unik yang aku temuin dari dia. Dimas itu cowok yang terbuka banget. Dia memang kadang over banget because dia terlalu bersemangat. Tapi disisi lain, dia adalah cowok yang perhatian. Mungkin ini juga yang bikin sebagian besar cewek di sekolah pada tergila-gila sama dia. Seperti biasa, seperti bulan Januari tahun lalu, cowok sinting ini selalu nyanyi lagu Januari-nya Ian. Aku malah mikir dia itu gak kreatif, nggak ngikutin trend musik yang lagi berkembang saat ini. Dari dulu, lagunya itu- itu mulu. Herannya lagi, masih banyak murid-urid yang suka dia nyanyi, walaupun semua tau suaranya dia kayak apa!!
Taun ini, aku masih sekelas sama dia, sial! Perasaan dunia gak sempi-sempit mat deh, tapi, kenapa Tuhan mentakdirkan aku satu kelas lagi sama cowok sableng yang suka malu-maluin aku ini? kenapa? Tapi..kenapa yah? Meski aku sebal banget sama sikapnya yang garing dan ramah, kalau dia gak berangkat tanpa alasan yang jelas, aku malah jadi manusia paling sibuk yang nyari tau keadaanya. Walaupun, nanti begitu ketemu gak ada hal penting yang kita lakuin. Aneh kan? Menurutku sih aneh, tapi Dimas bilang sendiri dia malah senang. Hah?! Apa maksudnya?

Januari 2009..
Dimas, dia satu-satunya cowok yang berani deketin aku. Selam ini aku dicap sebagi cewek jutekand cuek. Pokoknya gambaran singkat aku ini kayak bungkusan plastik item di mata mereka. Tahu artinya? Misterius dan enggak menarik! Tapi, enggak sama Dimas,. Cowok ini, dialah yang ngajak aku nonton pesta kembang api di taman festival budaya. Asal tau aja, selama ini sikapku enggak bisa dibilang baik sama cowok satu ini. Tapi, enggak tau kenapa, dia terus-terusan maksa aku nonton pesta kembang api sekaligus merayakan perayaan tahun baru. Lama-lama aku malah luluh. Lebih dari itu, aku malah senang.
Hari yang bersejarah. Aku nggak pernah nyangka kalau tahun ini, bahkan hari ini bakal jadi hari yang teramat penting buatku. Dimas, siapa lagi kalau bukan dia?! 2 minggu setelah nonton festival, dengan berani dia bilang suka sama aku, Shock? Jelas! Apalagi dia bilang di depan seluruh penghuni sekolah, ya, hari Senin, pas upacara bendera! Gila apa?! Gak nyangka banget kan? Heran! Padahal selama ini yang suka sama dia lebih cantik, lebih smart, dan yang pasti lebih baik dari aku. Tapikenapa malah jadi kebalik? Bukannya dia bilang sendiri aku ini cwek lempengan yang cueknya minta ampun? But..Aku gak munafik. Meski aku sering BT and sebel sama dia, aku seneng banget loh apas dia bilang suka, apalagi pakek ngasih blackforest kesukaanku. Tahu saja sih dia, dan entahlah, aku ngerasa kalau saat itu aku tersenyum bahagia, bukan senyuman seperti biasanya.

Januari 2010..
Belakangan sikap Dimas berubah. Dia jadi sering menghilang! setelah lulus SMP, meski kita sekolah di SMA yang sama, dia enggak lagi seaktif dulu main bareng atau sekedar kumpul bareng. Okelah, dia sekarang aktif di OSIS aku ngerti itu,. Tapi masa iya sibuk banget sampai-sampai dia enggak ada waktu sedikitpun buat jawab telepon atau smsku?
Aku sudah telepon dia berkali-kali tapi gak pernah diangkat. Aku juga sms, dan hasilnya nol besar, gak dibales. Waktu aku telpon ke rumahnya pembantunya bilang kalau Dimas sedang keluar kota. kalau menurutku sih dia tidak sedang keluar kota, tapi hilang diteln bumi. Hilang tanpa jejak, karena pembantunya pun gak tahu dia pergi ke kota mana.
tapi, beberapa hari kemudian, aku mendapat sms dari Dimas. Dia minta maaf karena lama nggak menghubungiku. Dia bilang lagi sibuk banget. Terus, dia bilang kalu dia juga bakal dateng untuk ngajak aku pergi di malam tahun baru nanti. Senang? Pasti, meski rasa bete masih ada, ya seenggaknya dengan dia sms, aku sedikit lebih lega. Tapi waktu aku mau balas smsnya, nomornya langsung gak atif. Aku jadi mikir, jangan-jangan Dimas hanya ngerjain aku. Iya, kayak sifat khasnya yang selama ini aku tahu!
Malam ini adalah malam tahun baru. Ya, malam ini aku sedang menunggu kedatangan Dimas. Beberapa waktu lalu dia sms, bilang mau dateng jam delapan, tapi sampai jam setengah sebelas dia belum dateng, apa maksudnya coba?
Malam ini gerimis, meski gak begitu lebat, tapi angin yang berhembus cukup membuat tubuhku merinding. Dingin! Terang saja, sudah jam setengah 12, seharusnya aku udah jalan sama Dimas, bukannya mondar-mandir di ruang tau gini.. Membosankan!
Teng..Tong.. Bel! Aku yakin itu Dimas! Ya, akhirnya dia datang. Aku tersenyum lebar begitu melihat wajah putihnya yang sangat lama tak kulihat. Dimas memandangku penuh maaf. Tanpadia minta maafpun aku sudah memaafkannya. Kekesalanku menunggu selama berjam-jam gak ada artinya, apalagi dia dateng pakek bawa setangkai mawar putih, bunga kesukaanku.
Tapi, aku kecewa, dia cuma bilang maaf dan selamat tahun baru tanpa mengajak aku pergi ke pesta kembang api seperti yang ia janjikan. Ternyata Dimas memang menyebalkan! Dia gak peduli aku udah nunggu berjam-jam. Dia datang cuma kasih setangkai mawar. Apa bagusnya? Jadi, jangan salahkan aku kalau aku kesal terus buang mawar itu ke tong sampah dekat pintu kamar! Dan aku, karena saking gak tahan, nangis! Aku nangis karena menangisi diri sendiri bahwa selama ini aku udah dibegoin sama cowok macam Dimas!
Tulit..Tulit.. Ada telepon masuk. Aku yakin itu dari Dimas. Hah, malas aku ngankatnya. Mending dimatiin aja! Tapi urung niatku melihat nama yang tertera di layar hape, Adel. teman akrabku yang satu jurusan sama Dimas. Meski suaraku sengau. Aku jawab juga.
"Apa?"
"Nay, yang sabar ya?" Oh, bahkan Adel juga tahu kalau malam ini Dimas nyuekin aku. Adel memang sahabat yang baik.
"Kayaknya Dimas udah enggak sayang sama aku, Del. Dia ngebiarin aku nunggu lama, dia gak nepatin janjinya"
"Nay, kamu salah! Dimas sayang sama kamu, dia gak dateng karena.."
"Dia datang Del! Dia kasih aku setangkai mawar putih, bilang maaf, ngebatalin janji terus pergi! Nyebelin banget kan?!"
"Dimas dateng? Itu gak mungkin!"
"Apanya yang gak mungkin? Bunga yang dia kasih aja ada di tong sampah!"
"Kamu bercanda Nay?!"
"Aku serius! Dimas dateng, walaupun cuma bikin aku kecewa!"
"Gimana bisa? Jam delapan tadi, Dimas kecelakaan. dia meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit!"
"Apa?"
"Jadi belum ada yang kasih tau kamu?"
Adel, kenapa suaranya jadi serius begitu? Dan kenapa..Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat takut? Dan kenapa..Tulangku seperti dilolos satu persatu bersamaan dengan air mata yang mengalir tak terkontrol?!

END

by: Angelica Elisabeth

Senin, 20 Februari 2012

Senja

"Nanti sore jadi kan kita liat senja lagi?"
"Jadi dong, pasti, ntar sore aku ke rumah kamu, buat jemput kamu."
"oke deh, aku tunggu."
kututup telpon dari Ester, pacarku. Ya, kami berdua sangat menyukai senja, alasannya adalah karena senja itu indah dan romantis. Matahari terbenam, burung kembali ke sarangnya dan semburat indah warna jingganya. Kami berdua biasa menikmati senja di sebuah taman kecil yang tidak sengaja kami temukan saat kami sedang berjalan-jalan. Suasana taman itu sunyi dan nyaman, menghadap ke arah barat pas banget deh pokoknya buat menikmati senja. hmm, lebih baik aku segera bersiap-siap.
^__________^
"Kita jalan aja Den yah kayak biasanya."
"Okeh, ayok berangkat."
Aku dan Ester berjalan menuju taman sambil bergurau dan bercanda. Aku selalu merasa nyaman saat dia didekatku. Dia selalu bisa membuatku tersenyum walaupun aku sedang sedih.
"Ester, kamu kenapa?"
"gak papa kok Den, cuma pusing sedikit, mungkin karena aku kecapaian."
"hmm, kalo gitu, kita pulang aja deh ya."
"gak usah, aku gak papa kok."
"beneran?"
"iya Den, bemeran kok, aku baik-baik ajah."
"oke deh, tapi kalo kamu gak kuat, bilang yah, kita pulang aja."
"okeh, pasti."
kami melanjutkan perjalanan sekitar lima menit dan akhirnya kamipun sampai di taman.
"bagus banget yah Den?"
"iya, indaahh bangeet."
"Denny, kenapa kamu liatin aku kayak gitu? ada yang aneh kah dari aku?"
"ohh, enggak kok, ak cuma takut kehilangan kamu aja, ak takut kita ga bisa ngeliat senja bareng-bareng lagi."
"hahaha, ngomong apaan sih kamu? kita itu pasti selalu bisa bersama, karena aku sangat sayang sama kamu dan aku janji gak akan pernah ninggalin kamu!"
"beneran ya kamu janji?"
"iya, aku janji!"
kicauan burung menemani kami yang sedang menikmati indahnya semburat jingga senja.
^__________^
Paginya saat hari minggu aku terbangun karena HP ku berbunyi.
"Iya tante, ada apa?"
"tadi malam Ester masuk rumah sakit, kamu bisa kan Den nemenin Ester di rumah sakit ?"
"kenapa tante baru kabari saya sekarang?"
"maaf Den, kemarin Ester bilang ke tante kalau sebaiknya kamu jangan tahu dulu, kamu bisa kan menemani Ester?"
"pasti tante, saya siap-siap dulu yah tante."
"iya Denny, terimakasih ya."
setelah itu telponpun kututup dan aku bergegas untuk bersiap-siap dan pergi menuju rumah sakit tempat Ester dirawat. perasaanku berkecamuk, apa yang sebenarnya terjadi pada Ester.
^__________^
sesampainya di rumah sakit aku bergegas menuju kamar tempat Ester dirawat. pikiranku masih kacau dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ester. setelah sampai di kamar Ester perasaanku makin kacau dan bingung melihat wajahnya yang pucat tanpa senyuman, padahal baru kemarin sore aku melihat dia tersenyum manis. tubuhnyapun terlihat sangat lemah. aku merasa seperti ada yang kurang saat melihat wajahnya, ya senyumannya hilang. lama kupandangi wajah Ester hingga tak terasa aku meneteskan air mata.
"Denny, kamu kenapa nangis?"
aku terlonjak, ternyata Ester sudah bangun.
"gak papa kok, aku cuma sedih aja ngeliat kamu kayak gini."
"udahlah, gak ada yang perlu dikuatirin, ini cuma sakit biasa kok, aku cuma kecapekan."
"sakit biasa apanya?!! kamu sampai masuk rumah sakit Ester!"
"udah dehh, gak papakok, aku baik-baik aja." Jawab Ester ambil tersenyum lemah.
"ya udah, kalo gitu makanannya dimakan dulu yah biar kamu cepet sembuh, sini aku suapin."
"iya."
^__________^
aku menemani Ester sampai sekitar pukul sebelas malam saat kedua orang tuanya datang. setelah berpamitan pada tante Putri dan om Putra. sekitar limabelas menit akupun sampai di kostku dan langsung menuju kamar kostku dan tertidur.
^__________^
sudah sekitar dua hari aku belum menjenguk Ester, karena banyak tugas-tugas yang harus aku selesaikan. sebenernya sih aku kangen banget sama Ester, tapi yah mau gimana lagi tugasku harus diselesaikan dalam satu minggu ini. saat sedang menyelesaikan tugas, tiba-tiba saja handphoneku berbunyi. di layar tertera nama Tante Putri, mamanya Ester.
"Iya tante, ada apa dengan Ester?"
"kondisi Ester sedang drop, tolong kesini yah Denny cepat."
"iya tante, saya segera kesana."
bergegas kuambil kunci sepeda motor dan langsung kebawah segera pergi menuju rumah sakit.
^__________^
sesampainya di rumah sakit akupun segera menuju kamar tempat Ester dirawat. tubuhnya terlihat semakin lemah. "ya Tuhan, kenapa harus Ester yang mengalami semua ini? kenapa bukan aku saja? lebih baik aku yang merasakan sakitnya, daripada aku tersiksa melihat dia seperti ini." batinku dalam hati.
tiba-tiba saja tante Putri masuk.
"Denny, bisa kesini sebenter, tante mau bicara sama kamu."
"iya tante."
aku dan tante Putri keluar kamar dan duduk di bangku di depan kamar Ester.
"Denny, sebenarnya Ester selama ini menderita kanker otak, tante sebenernya ingin memberitahu kamu, tetapi Ester melarang tante untuk memberitahu kamu. oleh karena itu, tante mohon, tolong buat Ester bahagia dan lupa akan sakitnya, karena tante tau, Ester sangat sayang sama kamu."
"ya tante, pasti, aku pasti akan buat Ester bahagia, karena aku juga sangat menyayangi Ester."
Perasaanku makin tidak karuan, yang kupikirkan sekarang hanyalah Ester, aku takut akan kehilangan dia, aku sangat menyayanginya.
"ya Tuhan tolong sembuhkanlah Ester."
^__________^
pada suatu malam, saat aku sedang menemani Ester, dia terbangun.
"Denny.."
"kamu sudah bangun?"
dia hanya mengangguk lemah dan tersenyum. aku bersyukur dalam hati bisa melihat dia tersenyum lagi.
"sebaiknya kamu jangan terlalu banyak ngomong dulu, kesehatan kamu belum sepenuhnya pulih."
"aku punya sesuatu buat kamu Denny, ada di laci. tapi kamu belum boleh buka sekarang. kamu boleh membukanya saat sudah waktunya."
akupun mengambil barang yang dimaksud Ester. sebuah amplop, aku ingin bertanya, tetapi kuurungkan niatku untuk bertanya. segera aku masukkan saja ke dalam kantungku.
^__________^
sekarang aku bisa sedikit tenang, karena keadaan Ester sudah membaik dan diapun sudah tidak lagi dirawat di rung ICU. diapun sudah bisa seperti sediakala tertawa dan bercanda denganku. bahkan, setiap sore kami menikmati senja bersama meski di rumah sakit. 
"terimakasih Tuhan akhirnya Ester bisa pulih kembali." doaku dalam hati.
^__________^
pada suatu malam, saat aku aku sedang menyelesaikan makalah tiba-tiba tante Putri menelpon.
"Denny, Ester masuk ruan ICU lagi!"
"loh, bagaimana bisa tante?"
"tante juga tidak tahu, tiba-tiba saja kondisinya drop. lebih baik kamu segera kesini."
"iya tante, saya segera kesana."
akupun membereskan tuga-tugasku dan segera menuju rumah sakit.
"ya Tuhan, kenapa lagi ini? bukankah kemarin kondisi Ester sudah membaik? kenapa sekarang menjadi seperti ini lagi?". tanyaku dalam hati.
perasaanku bertambah kacau, aku tidak bisa berpikir dengan jernih, yang sekarang aku takutkan hanyalah kehilangan Ester. aku sangat menyayanginya, aku tidak mau kehilangan dia. lebih baik aku saja yang mengalaminya, daripada aku tersiksa melihat dia seperti ini.
^__________^
aku menemani Ester sampai larut pagi. tubuhnya terlihat sangat lemah, dia tidak bisa berbuat apa-apa. dia hanya bisa tertidur dengan selang infus yang dipasang di hidungnya. aku belum pernah melihat dia seperti ini. yang aku lihat dari Ester biasanya adalah keceriaan, senyum manis dan canda tawa, tetapi sekarang, dia hanya bisa berbaring tanpa bisa melakukan apa-apa.
"hmm, kenapa seperti ini? kenapa harus aku dan Ester yang mengalami semua ini? kenapa bukan orang lain saja?"
^__________^
aku tertidur, dan baru bangun sekitar pukul lima pagi karena tante Putri membangunkanku.
"Denny, sudah pagi, apa kamu gak kuliah?"
"eh, iya tante, saya masuk jam delapan kok."
"maaf yah Denny, tante ngerepotin kamu, sekarang biar tante yang jagain Ester, kamu pulang saja supaya bisa siap-siap untuk kuliah. makasih ya sudah mau membantu tante menemani Ester."
"iya tante sama-sama, nanti kalo ada apa-apa hubungi saya saja tante."
"terimakasih banyak loh ya Denny."
"iya tante sama-sama, saya pulang dulu ya tante, mari."
"iya, hati-hati ya di jalan Den."
"iya tante."
setelh berpamitan akupun pulang ke kostku. tetapi kenapa perasaanku tidak enak, seperti ada yang mengganjal dan kenapa aku terus saja memikirkan Ester? tapi segera kutepis pikiran buruk itu dan aku berdoa dalam hati supaya Ester baik-baik saja.
^__________^
saat jam istirahat perasaan itu semakin kuat mengganjal, akhirnya karena tidak tahan, akupun bolos kuliah dan segera menuju rumah sakit. di dalam hati hati aku berdoa supaya Ester baik-baik saja. sektar 20 menit perjalan aku pun sampai di rumah sakit. tante Putri menepuk punggungku dari belakang.
"Denny, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ester sudah meninggal."
aku hanya bisa diam, tidak tau apa yang harus aku lakukanaku hanya bisa menangis, aku masih belum percaya dengan pa yang terjadi.
"ini pasti salah, tidak mungkin Ester meninggal, dia masih hidup, aku yakin itu. dokter pasti salah, dia masih hidup! dia janji kalau dia tidak akan meninggalkan aku! dia masih hidup!"
"sudahlah Denny memang ini yang terjadi awalnya memang berat, tetapi kita harus bisa menerima semua ini supaya Ester bisa tenang di sana." om Putra menasehatiku, tapi air mukanya terlihat sangat sedih.
aku masih belum bisa percaya dengan semua ini. orang yang sangat aku sayang pergi secepat itu, dan ini bukan untuk sementara, tapi ini untuk selamanya. Tuhan, apakah memang ini yang harus terjadi? tapi kenapa aku yang harus mengalami ini semua?.
^__________^
esoknya saat pemakaman Ester aku hanya bisa diam dan menangis. aku melihat Ester terbaring kaku dalam peti. aku menebarkan bunga sambil berdoa pada Tuhan, semoga Ester bisa tenang di sana, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya dan dia tak akan terganti untuk selamanya, selalu ada ruang untuknya di hatiku.
^__________^
seminggu berlalu sejak kematian Ester. sudah lama rasanya aku tidak menikmati senja, sore ini aku berjalan sendiri menuju taman dimana kami biasa menikmati senja. kubuka amplop yang kemarin Ester berikan untukku. kubaca perlahan isinya.

SENJA
seanggun warna senja menyapa
dia datang bersama warna indahnya
hatiku pun menyambut dengan senyum manisnya
semoga bintang penuh harapan meneranginya
ketika ia akan beranjak
aku takut takkan bisa bersamanya
aku takut kehilangan senyumnya
aku takut takkan bisa habiskan senja dengannya
namun bintang-bintang tersenyum padaku
ingatkan akan hari esok senja pasti akan kembali
dengan sejuta indanya

with love
Ester Putri P

kugenggam kertas itu erat-erat di dadaku.
"meski kamu sekarang sudah pergi, tetapi kamu tidak akan pernah pergi dari hatiku selamanya. akan selalu ada ruang untukmu yang tak ada satu orang pun bisa mengisinya. senja akan selalu ingatkan aku akan senyum manismu."
I LOVE YOU FOREVER ESTER !!!! 
---END---

with ..
Ester Putri Prameswari to Denny Wahyu Putra Pratama

dibuat: Februari 2010
diketik: Februari 2011

Jumat, 06 Januari 2012

Biodataku :)

nama, Ester Putri Prameswari. aku lahir di Malang tanggal 11 Agustus 1997. hobiku membaca novel, jalan-jalan, banyak lagi. sekarang aku duduk di bangku SMP kelas sembilan. aku bersekolah di SMPK.St.Maria 1 Malang. aku suka banget warna Pink, hampir semua barangku berwarna Pink. dan aku ngefans banget sama Justin Bieber. perjalanan hidupnya sangat menarik, mulai dari dia belum terkenal sampai terkenal sekarang. aku suka suaranya dan dia benar-benar berbakat dalam musik. aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Natanael. dia baru duduk di kelas lima sekolah dasar. sekian biodataku. :)